Blog berisi liputan acara dan tulisan pribadi.

Kamis, 26 Oktober 2017

Film ‘My Generation’ Tentang Remaja Kritis Era Millenial Tayang 9 November 2017



Film yang bergenre drama remaja ini berkisah tentang persahabatan 4 anak SMU, Zeke, Konji, Suki dan Orly. Berawal dari ulah mereka yang memviralkan video protes terhadap guru, sekolah dan orang tua mereka, sehingga membuat liburan sekolahnya menjadi gagal. Akibatnya mereka tidak diperbolehkan liburan.

Meskipun tidak diberikan libur, dengan kondisi yang tidak diinginkan, ternyata membawa mereka pada kondisi yang membuat berpikir, belajar terhadap masalah yang mereka hadapi dengan cara menyelesaikan masalah dari pertanyaan dan ketidakpahaman seputar kehidupan mereka jalani selama liburan.

Kita harus sadar zaman sudah berubah, remaja sekarang sudah semakin kritis. Mereka sudah bukan lagi generasi yang mudah didikte ataupun didoktrin dengan segala harapan dan kemauan kita sebagai orang tua.

Keempat sahabat ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan konflik yang berbeda pula. Penulis akan mengupas karakter yang dimiliki para pemain, yang nantinya akan kita saksikan bersama-sama di Bioskop secara serentak pada 9 November 2017 nanti.

Orly dikenal sebagai perempuan yang kritis, pintar dan berprinsip dan jiwa mudanya sedang tumbuh-tumbuhnya, kekritasan nya terhadap kesetaraan gender yang melabeli kaum perempuan, diantara mengenai keperawanan. Ia mencoba mendobrak label yang disematkan kepada perempuan. Ditilik dari keluarganya, Orly tinggal bersama dengan ibunya yang single parent yang memiliki pacar jauh lebih muda dengan ibunya, hal ini dalam pandangan Orly tidak sesuai dengan umur ibu nya.

Kita pahami sekilas di atas, nampak jiwa yang kritis dalam diri Orly, acapkali bertentangan dengan norma yang terjadi dalam kehidupan dewasa ini. Kita tahu, kekritasan yang tidak didukung oleh orang tuanya, hanya akan menjadi masalah baru, berbeda dengan orang tua yang memiliki kelogowoan terhadap anak-anak. Ketika diajak berkomunikasi, seorang anak tentunya akan dengan terbuka membuka komunikasi manakala orang tua mau mengayomi bukan malah membunuh karakter.

Kemudian, pemain lainnya yaitu Suki, dikenal sebagai perempuan yang paling cool diantara teman lain nya. Namun, kepercayaan dirinya hilang dan diperparah dengan perlakuan orang tua yang melabeli negatif terhadap dirinya.

Ketika kepercayaan diri hilang, disinilah peran orang tua hadir, karena anak sesungguhnya memerlukan dorongan positif dari lingkungan dimana dia tinggal, terlebih dari orang tua sendiri. Energi positif yang paling besar biasanya lahir dari orang tua yang memiliki pandangan positif terhadap anaknya, bukan sebaliknya, ini akan menjatuhkan mental perkembangan anak.

Zeke ini pemuda yang memiliki sikap kritis, dikenal juga going dan loyal terhadap teman-teman nya. Pemuda ini menarik, dia memendam luka yang tersimpan di dalam hati nya. Zeke merasa tidak dicintai oleh kedua orang tuanya, untuk menyembuhkan luka yang dipendamnya, pemuda ini berkomunikasi dengan orang tuanya yang selama ini terputus.

Saat menghadapi anak yang memiliki jiwa yang kritis. Orang tua dituntut memiliki jiwa terbuka terhadap anaknya. Orang tua juga harus memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeluarkan unek-unek yang ada dalam benak pikiran mereka. Kesuksesan seorang anak dimulai dari keterbukaan orang tua terhadap semua apa yang dikerjakan oleh orang tuanya, pintu komunikasi tertutup manakala kedua belah pihak tidak ada yang mengalah. Ini akan menjadi sulit untuk bersama-sama membangun keluarga yang harmonis dan berkualitas. Penulispun ingin memahami film ini sebagai orang tua yang memiliki tantangan dan tanggung jawab terhadap anak penulis sendiri.

Selanjutnya adalah Konji, pemuda dikenal polos, dia merasa orang tuanya kolot dan over protective menekan dengan aturan yang telah dibuat orang tuanya. Ada satu peristiwa yang membuat Konji shock, membuat kepercayaan terhadap orang tuanya hilang, dia menganggap orang tuanya kontradiktif terhadap peraturan yang dibebankan terhadap dirinya.

Teladan yang baik, diperlukan oleh seorang anak. Mengingat tsunami informasi sekarang ini, peran khusus orang tua sangatlah dinanti-nantikan, mengapa? Apabila orang tua tidak hadir, anak akan mencari lingkungan yang mendukung dirinya nyaman untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya perlu dilakukan.

Menurut Sutradara Upi yang paling hits ini, dia ingin menyajikan realita lebih dekat tentang kehidupan generasi millennial, sehingga menjadi catatan penting dalam mengetahui karakter sesungguhnya, Film ini juga dapat menggambarkan generasi millennial yang sesungguhnya, sehingga dengan menyaksikan film ini bagi mereka seperti aktivitas normal keseharian mereka. Dengan karakter generasi yang unik ini maka film ini layaknya sebagai potret mereka yang real.  

“Film ini sangat menyiratkan generasi millennial saat ini" Demikian ucap Upi.
Upi menambahkan, film my generation ini telah melakukan riset social media listening selama 2 tahun. Dengan menghabiskan waktu pengerjaan selama 1 tahun.

Film My Generation ini sudah keliling untuk promosi di beberapa sekolah di Jakarta. Kanaan Global School Jakarta dan Sekolah Tzu Chi Jakarta menjadi ajang untuk membedah dan menganalisis film ini. Tontonan yang memberikan edukasi ini, menepis anggapan bahwa film ini tidak mendidik. Sebaiknya, tonton dulu filmnya, baru berkomentar.

Film My Generation melalui IFI Sinema mengajak guru dan siswa untuk nonton bersama, Sutradara Upi ini pula mengajak kalangan pendidik untuk mengetahui secara detail problematika generasi millennial, sehingga film ini dijadikan referensi untuk memahami cara dan bagaimana pendekatan dengan siswa yang baik di tengah arus informasi saat ini.

Untuk semakin penasaran, silahkan saksikan dengan baik video trailernya. Ingat, budayakan membaca dulu ya..


12 komentar:

  1. Wah.. Risetnya aja sampe 2 taun, pasti ni film nya recomended buat kalangan muda nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kaka, referensi bagi orang tua untuk memahami generasi millenial.

      Hapus
  2. Perlu ada terus film bergenre pendidikan remaja begini nih Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, dimulai dari riset, tentu akan menemukan ide-ide yang bisa disuguhkan kepada masyarakat dengan genre muda, tontonan yang mengedukasi, makasih mas, sudah mampir

      Hapus
  3. muatan edukasinya cukup menarik dan bagus, lanjutkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di tengah tsunami informasi yang kian massif, tontonan yang mengedukasi perlu diperbanyak. Agar generasi milenial mampu memilah informasi yang penting mana saja yang dibutuhkan. Makasih kang

      Hapus
  4. Wah perlu untuk di tonton ini, karna film yang gendre edukasi kurang bnget. Jngn lupa mampir www.bukainfo17.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap kak, jgan lupa nonton ya kak tanggal 9 November nanti

      Hapus
    2. Oke. Nanti saya cek yaa blog nya kak

      Hapus
  5. Wah perlu untuk di tonton ini, karna film yang gendre edukasi kurang bnget. Jngn lupa mampir www.bukainfo17.blogspot.com

    BalasHapus
  6. udh tayang nih di bioskop2 indo... keknya bagus ni filmnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, buat referensi orang tua dan guru

      Hapus

Dapur Unik dan Menarik Harapan Keluarga Bahagia

Iffan Suryanto,  Presiden Direktur PT. Electrolux  saat launching  Electrolux Taste and Care Center Dulu, semasa kuliah, senior saya...